Ummu Imarah, Nusaibah binti Ka'ab
NUSAIBAH
BINTI KA’AB
SANG
PERISAI PERANG RASULULLAH
Sahabat muslimah, betapa banyaknya fitnah yang dilontarkan untuk kaum feminis dalam agama
kita yang menurut mereka terlalu mendiskreditkan posisi perempuan. Mereka
beranggapan bahwa posisi perempuan begitu rendah disisi laki-laki, bahkan tidak
memiliki kelayakan untuk dapat ikut serta melakukan perubahan bersama
laki-laki. Namun sebagai muslimah kita harus mengetahui dengan baik bahwa Allah
begitu mengistimewakan perempuan.
Pada aslinya, perempuan
mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kapasitas diri agar setara dengan
laki-laki. Hal ini juga telah banyak dibuktikan pada zaman kenabian di mana
para istri dan shabiyah diberikan kesempatan oleh Rasul untuk dapat menimba
ilmu dengan maksimal dan berperan serta dalam da’wah. Tidak hanya menjadi istri
dan ibu rumah tangga yang aktif di dalam rumah, mereka pun diberikan kebebasan
untuk tetap belajar dan berkontribusi bahkan sampai turun ke medan perang. Dan
salah satu contoh perempuan yang
kedudukannya begitu dimuliakan oleh Islam adalah Nusaibah binti Ka’ab RA.
Nusaibah binti Ka'ab Al-Anshariyah atau lebih dikenal dengan Ummu Imarah,
adalah salah satu dari 2 perempuan yang bergabung dengan 70 laki-laki Anshar
yang berbai’at kepada Rasulullah di Aqabah. Ia
adalah seorang sahabat perempuan yang mulia dan pemberani. Kisah tentang
perjuangan dan keberaniannya telah diakui oleh Islam.
Ummu Imarah hampir selalu ikut dalam setiap peperangan bersama suami dan
anaknya. Ia pergi untuk memberikan contoh mulia sebagai seorang perempuan yang
tidak hanya luar biasa di dalam rumah tetapi juga di luar rumah. Ia menyadari
dengan benar perannya sebagai istri yang senantiasa ada di sisi suaminya, juga
perannya sebagai ibu yang melindungi dan memberi contoh mulia bagi anak-anaknya.
Namun selain kedua hal tersebut Nusaibah juga menyadari bahwa ia harus
memberikan contoh kepada para muslimah untuk selalu ikut serta dan berperan
aktif dalam menegakkan kebenaran. Seperti yang dicontohkannya dalam setiap
peperangan, ia selalu pergi bersama pasukan muslim untuk memberi minum prajurit
yang kehausan dan mengobati prajurit yang terluka. Dan di lain kesempatan ia
bahkan ikut berperang melawan musuh dan melindungi Rasulullah Saw. Tidak peduli
pada posisi apa kita berada, tekad untuk aktif berda’wah membela agama Allah
adalah landasan terpenting yang harus ditanamkan oleh setiap perempuan di
seluruh penjuru dunia.
Nusaibah adalah salah satu sahabiyah yang selalu berada di samping
Rasulullah ketika sedang berperang melawan kaum musyrik. Diceritakan saat itu
kaum muslimin mengalami kekalahan, Ummu Imarah pun segera berlari menuju Rasul.
Ia melompat dan melindungi Rasul dengan pedangnya. Ia juga melemparkan anak
panahnya ke musuh-musuhnya, meski ia sendiri mengalami banyak luka.
Seketika itu datanglah Ibnu Qomi’ah yang hendak membunuh Rasulullah. Maka
berdirilah Ummu Imarah di antara keduanya. Melihat hal itu Ibnu Qomi’ah memukul
bagian belakang leher Ummu Imarah dengan keras hingga luka parah. Namun Ummu
Imarah kembali membalas dengan beberapa pukulan. Meskipun seorang perempuan,
Ummu Imarah tidak gentar dan lemah. Ia tetap berada di medan perang melindungi
utusan Allah yang sangat dicintainya, Rasulullah Saw.
Perempuan diciptakan oleh Allah dengan segala
kelemahlembutannya. Namun sifat tersebut tidak boleh menghalangi kita untuk
bersikap tegas terhadap orang-orang kafir yang hendak menghina agama-Nya dan
melecehkan para utusan-Nya. Kecintaan kita terhadap apa yang kita cintai
seharusnya tidak membuat kita lemah, melainkan sebaliknya membuat kita makin
kuat. Seperti yang dicontohkan Ummu Imarah, ketika melihat Rasul yang
dicintainya didekati musuh, ia tidak merasa takut namun justru merasa terdorong
untuk melindungi Rasul dan menjadi salah satu perisainya.
Rasulullah Saw menetapkan keutamaan kepada Nusaibah ra atas apa yang
telah ia lakukan pada perang Uhud. Ia telah melampaui begitu banyak laki-laki.
Atas dasar tersebut suatu ketika Rasul bersabda, “kedudukan Nusaibah binti Ka’ab pada hari itu lebih
baik daripada kedudukan fulan dan si fulan”. Beliau juga bersabda,
“ia tidak
berpaling ke kanan atau ke kiri kecuali aku melihatnya terus berperang
demi aku.”
Beliau juga mengatakan kepada putra Nusaibah yang bernama Abdullah, “barakallahu ta’ala atas kalian
wahai ahlul bait. Kedudukan ibumu lebih baik dari fulan dan fulan. Dan
kedudukan suami ibumu Ghaziyyah bin Amr lebih baik dari fulan dan fulan. Semoga Allah
lebih merahmati kalian wahai ahlul bait”
Dari kisah tersebut kita dapat mengetahui bagaimana
kedudukan Ummu Imarah yang begitu diutamakan oleh Rasul. Sebagai perempuan
kedudukannya bahkan melampaui sahabat-sahabat Rasul yang saat itu juga ikut
berperang. Hal itu menandakan siapa saja, tidak peduli laki-laki atau
perempuan, semua diberi kesempatan yang sama untuk berlomba-lomba dalam kebaikan
dan berkontribusi dalam da’wah untuk menegakkan kebenaran.
Ketika Nusaibah ra mendengar pujian Rasulullah Saw terhadap dirinya dan
keluarganya, ia mendapatkan kesempatan untuk meminta sesuatu atas kegigihannya
membela Rasul dan agama Allah. Ia tidak meminta harta dan kedudukan, karena
baginya tingginya kedudukan di mata manusia tidaklah ada gunanya daripada
tingginya kedudukan di mata Allah.
Nusaibah berkata kepada Rasul Saw, “ya
Rasul, berdoalah kepada Allah Ta’ala agar kami dapat menemanimu di syurga”.
Tidak ada alasan bagi rasul untuk tidak mengabulkan permintaan itu dengan
segera. Maka Rasul Saw berdoa kepada Allah Swt dengan mengatakan, “Ya Allah, jadikanlah mereka
orang-orang yang akan menemaniku di syurga.” Setelah mendengar
kabar gembira dan doa Rasulullah Saw tersebut, Nusaibah ra berkata, “Aku tidak akan peduli dengan apa
yang akan menimpaku dari urusan dunia setelah ini.”
Memiliki cita-cita yang tinggi di dunia adalah
sesuatu yang wajar bagi manusia. Namun lebih dari itu kita harus memiliki
cita-cita yang tinggi untuk akhirat, karena sesungguhnya kehidupan di akhirat
itu kekal dan dunia adalah persinggahan sementara menuju akhirat.
Melihat peristiwa lain dalam perang yang diikuti Nusaibah, yaitu perang
Yamamah, saat itu kaum muslim sedang berperang melawan Musailamah Al Kadzab.
Nusaibah ra pergi bersama putranya Abdullah ra bersama kaum muslimin. Tujuan
utamanya adalah ingin menjatuhkan Musailamah di medan perang. Ummu Imarah
akhirnya dapat berhadapan dengan Musailamah. Meski ketika hendak membunuhnya ia
dalam keadaan luka parah karena tangannya terputus. Akan tetapi hatinya merasa
bahagia dan mendapatkan ketenangan ketika ia mendapatkan kabar bahwa Musailamah
telah tewas dan ia ikut andil dalam tewasnya musuh Allah itu.
Ketika Abdullah putranya memegang tangan Nusaibah dan memapahnya menuju
jenazah Musailamah Al
Kadzab berada, Ummu Imarah berkata, “tidak ada satupun yang dapat menghalangiku
hingga aku melihat manusia kotor ini telah dibunuh.”
Subhannallah, kecintaan Nusaibah pada Rasulullah dan agama Allah
telah menjadi kekuatan bagi hati dan raganya. Tidak peduli berapa banyak
hambatan dan luka yang akan mendera sekujur tubuhnya, atau bahkan hingga ia
meregang nyawa, ia tetap gigih melawan kaum musyrik yang hendak melecehkan
Islam. Sepatutnya kita meneladani sikap yang dicontohkan oleh Nusaibah.
Perempuan tidak layak menjadi lemah bahkan ketika harus berhadapan
langsung dengan musuh-musuh Allah. Karena sejatinya kekuatan ada di dalam hati,
bukan semata ada di raga. Namun kekuatan raga juga menjadi salah satu faktor
yang mendukung kesuksesan Nusaibah berjuang di medan perang. Oleh karena itu
perempuan haruslah memperhatikan jasadnya. Menjadi perempaun yang kuat itu jauh
lebih dimuliakan oleh Allah, daripada menjadi perempaun yang lemah dan tidak
berdaya.
Nusaibah telah memberikan inspirasi kepada kita para perempuan muslim,
bahwa salah satu peran kita hari ini adalah menjadi bagian aktif dalam da’wah.
Da’wah dapat dilakukan di dalam keluarga, masyarakat bahkan negara. Perempuan
juga hendaknya menanamkan investasi sebagaimana para sahabiyah berinvestasi di
jalan da’wah. Kecintaan itu harus ditanamkan di dalam diri kita sebagai
perempuan.
DIBUAT DENGAN BERBAGAI REFERENSI/SUMBER
Komentar
Posting Komentar